when you come
down in my heart
your expression throw me
down to nowhere
in what place do you can
love me?
in what time do you would
care of me?
why
my love not low as you know
my heart not evil
as you think
but I just unperfect blue sky
I have black clouds
I have rain on my face
and I have very bad storm voice
I know you're not really
don't care
I know you're not really
hate me
I know
That I love you
Like roots loves ground
Like ground loves worm
I miss you
Like birds misses spring
And ground misses rain water
I can love you anymore
I can sit near you
I can hear your voice very close
of my ears
I just can't see your feeling
of me
Senin, 26 Januari 2009
Senin, 19 Januari 2009
gatot mode on
entri yang sebelumnya gagal. Tapi q ga bakal ngebahas soal entri yang mengerikan itu gagal gara2 tingkahnya Mas Catur jelek. Teknisi kompu di lab 3 Spenasa mgl yg agak2 sialan. Aq bakal cerita ttg hujan. Always rain.
Akhir2 ni hujan suka banget nemuin aku n orang2 magelang. Entah karena cinta ato malah benci. Tapi terserahlah, yang penting aku suka. Aku suka hujan. Suka banget. Suka sampai sering main hujan2an trus dimarahin mama n Jimmy. Suka sampai selalu pingin nangis kalo liat tetes2 air besar dan kecil itu turun. Suka sekali meraih air2 bening itu dan menyimpannya dalam tanganku. Walo tahu itu ga efisien. Karena pasti akan merembes dan jatuh ke tanah. Ga tahan lama. Tapi bagiku itu lebih manis daripada menempatkannya dalam ember dengan bercak2 semen kering yang membosankan.
Menurut orang lain, hujan itu selalu dingin. Tapi bagiku malah hangat. Kalo ada hujan, aku akan berdiam di dalam rumah. Bersembunyi di balik selimut di ambang jendela. Memandanginya sampai rasanya mau mati. Karena ga bisa main ke mana2. Aku bakal memikirkan semua hal. Hidup dan kematian. Sengsara dan kebahagiaan. Bahkan teman2. Semua hal.
Aku suka hujan. Suka baunya yang bercampur dengan tanah basah. Suka lumpur2 lembek yang mengotori sol sepatuku. Suka suaranya yang menimpa genting dan batu2 di teras rumah.
Suka...... Suka sekali....
Kayak rasa sukaku yang berlebihan sama Jimmy.............
Akhir2 ni hujan suka banget nemuin aku n orang2 magelang. Entah karena cinta ato malah benci. Tapi terserahlah, yang penting aku suka. Aku suka hujan. Suka banget. Suka sampai sering main hujan2an trus dimarahin mama n Jimmy. Suka sampai selalu pingin nangis kalo liat tetes2 air besar dan kecil itu turun. Suka sekali meraih air2 bening itu dan menyimpannya dalam tanganku. Walo tahu itu ga efisien. Karena pasti akan merembes dan jatuh ke tanah. Ga tahan lama. Tapi bagiku itu lebih manis daripada menempatkannya dalam ember dengan bercak2 semen kering yang membosankan.
Menurut orang lain, hujan itu selalu dingin. Tapi bagiku malah hangat. Kalo ada hujan, aku akan berdiam di dalam rumah. Bersembunyi di balik selimut di ambang jendela. Memandanginya sampai rasanya mau mati. Karena ga bisa main ke mana2. Aku bakal memikirkan semua hal. Hidup dan kematian. Sengsara dan kebahagiaan. Bahkan teman2. Semua hal.
Aku suka hujan. Suka baunya yang bercampur dengan tanah basah. Suka lumpur2 lembek yang mengotori sol sepatuku. Suka suaranya yang menimpa genting dan batu2 di teras rumah.
Suka...... Suka sekali....
Kayak rasa sukaku yang berlebihan sama Jimmy.............
Shinmei no Ito
benang baja merah pekat
yang membebat leher
adalah benang takdir....
meniru dewa
manusia sengan meratap
apa-apa yang bisa diratapi
sementara dirimu
asyik menggesekkan pedang pada leher orang
benang takdir merah darah
merayap semakin kusut
zaman ini
telah dimabuk anggur merah
tubuh manusia
benang takdir pun bertambah kusut
benang takdir punya dua ujung
yang bernama 'hidup'
membebat lehermu sejak lahir
tapi dia tak melukaimu
sementara yang bernama 'kematian'
berjalan-jalan dang mengikatkan dirinya
pada benang 'hidup' orang lain
dan lajunya semakin cepat saja
tapi suatu hari
ia pasti menemuimu kembali
minta disatukan dengan 'hidup'
ketika kau mengiyakan
ia telah menembus lehermu
tepat di nadi
19 Oktober 2008
setelah hilang ditelan debu kamar
yang membebat leher
adalah benang takdir....
meniru dewa
manusia sengan meratap
apa-apa yang bisa diratapi
sementara dirimu
asyik menggesekkan pedang pada leher orang
benang takdir merah darah
merayap semakin kusut
zaman ini
telah dimabuk anggur merah
tubuh manusia
benang takdir pun bertambah kusut
benang takdir punya dua ujung
yang bernama 'hidup'
membebat lehermu sejak lahir
tapi dia tak melukaimu
sementara yang bernama 'kematian'
berjalan-jalan dang mengikatkan dirinya
pada benang 'hidup' orang lain
dan lajunya semakin cepat saja
tapi suatu hari
ia pasti menemuimu kembali
minta disatukan dengan 'hidup'
ketika kau mengiyakan
ia telah menembus lehermu
tepat di nadi
19 Oktober 2008
setelah hilang ditelan debu kamar
Balada Jengkerik
aku mendengar
suara angin datang
membawa bunyi "krik... krik..."
yang terasa familiar
rerumputan menunduk, berdoa
semoga seperti ini selamanya
makhluk-makhluk terus hidup
di dalam mereka
terdengar suara-suara
yang seperti pernah dikenal
namanya mungkin 'jengkerik'
menggesek-gesek pendengaran
di manakah makhluk yang hidup?
di surga
diperdengarkanlah suara-suara
yang dulu pernah ada
sekarang musnah
Magelang, 20 Januari 2009
atas nama agraria W.S. Rendra
suara angin datang
membawa bunyi "krik... krik..."
yang terasa familiar
rerumputan menunduk, berdoa
semoga seperti ini selamanya
makhluk-makhluk terus hidup
di dalam mereka
terdengar suara-suara
yang seperti pernah dikenal
namanya mungkin 'jengkerik'
menggesek-gesek pendengaran
di manakah makhluk yang hidup?
di surga
diperdengarkanlah suara-suara
yang dulu pernah ada
sekarang musnah
Magelang, 20 Januari 2009
atas nama agraria W.S. Rendra
Rabu, 14 Januari 2009
Cara Berjalan, Cara Menari
sebuah jalan dibentangkan di depanku
akan membawaku ke tempat seperti apa?
jalan adalah untuk membuangku
sayap adalah untuk menerbangkanku
ke tempat yang jauh
ingin lari
ingin kembali
kakiku beku
harus belajar lagi
tapi mungkin seperti
tak mensyukuri semuanya
beritahu aku
bagaimana membuat kakiku berjalan?
beritahu aku
dan aku akan mendahuluimu
menguasai langkah-langkah Waltz
aku menari, dears!
akan membawaku ke tempat seperti apa?
jalan adalah untuk membuangku
sayap adalah untuk menerbangkanku
ke tempat yang jauh
ingin lari
ingin kembali
kakiku beku
harus belajar lagi
tapi mungkin seperti
tak mensyukuri semuanya
beritahu aku
bagaimana membuat kakiku berjalan?
beritahu aku
dan aku akan mendahuluimu
menguasai langkah-langkah Waltz
aku menari, dears!
Jumat, 09 Januari 2009
Semuanya Kamu ~Jui~
Kamu adalah seniman paling gila, sinting, edan, atau apatah namanya. Kamu adalah orang paling imajinatif dan tak logis. Mungkin hanya kamu satu-satunya di dunia ini. Kau mewarnai ramtutmu dengan warna tembaga dan highlights coklat. Dan kau menindik telinga serta bibirmu. Aku kecanduan melihatmu bekerja. Aku tak tahan tidak berada di dekatmu.
Lukisanmu hidup dari warna tak masuk kategori apa pun. Puisimu seperti langit yang tingginya hanya Tuhan yang tahu. Lagu yang kau buat liriknya bicara. Dan musiknya menerjang semua genre yang ada, entah apa bisa dipetakan oleh musisi kondang sekali pun. Yang kusebut, Juiren. Artinya, Jui The Seiren. Walau kau terlalu sering wira-wiri main selonong seenak jidatmu sendiri di rumahku, dengan hanya mengenakan kaus buntuh warna-warni cat minyak dan celana Hawaii bunga-bunga norak. Tapi tetap saja nyanyianmu semerdu desir angin. Dan kau pernah berakting sampai diancam akan dijebloskan ke dalam RSJ kalau tak juga berhenti.
Sulit menjelaskan pribadimu. Karena rumit seperti operasi persamaan dalam metode matriks. karena tak terpahami seperti halnya lukisan abstrak yang tampak seperti corat-coret tak beraturan. Cara pikirmu adalah seni yang tak masuk akal. Tapi kau adalah seni yang gila itu sendiri. Kau riang dan cantik seperti Papilio blumei. Jiwamu riang dan hatimu bening. Aku bahkan kadang berilusi bahwa kau punya sayap.
Masih ingat awal pertemuan kita? Kau memuji habis-habisan lukisanku tentang mimpi buruk beberapa hari lalu yang bahkan dianggap orang lebih payah dari gambar pensil anak TK. Yang bahkan teori bla bla itu tak bisa kupahami.Kau menyebutnya 'gaib'. Kau bagaikan bom yang siap meledak jika pikiranmu tak tersalurkan waktu itu.
Kau cinta mati pada Bjork. Dan menggilai gaya tulisan khayal Ryunosuke Akutagawa. Kau sering memotret benda-benda yang menurut orang lain tak artistik sama sekali. Sumur tua jelek di belakang rumahku, misalnya. Dan alat musik favoritmu adalah harpa dan flute. Yang kau pelajari dengan membaca dan mendengarkan. Alasannya, kedua alat musik itu membuat pemainnya terlihat bahagia. Aneh memang, dan terkesan tidak murni. Tapi permainanmu bahkan lebih murni dari mata air sekalipun.
Kau punya gitar elektrik yang bisa ditekuk gagangnya. Dan penampilan luarmu tak pernah normal. Tapi kau seperti langit yang teduh, meracuniku dengan segala macam pikiran anehmu yang rupawan. Aku selalu ingin mendengarmu bernyanyi, berdansa denganmu, difoto dan dilukis olehmu, menonton deklamasi puisi, sampai minta diajari melukis. Tapi aku paling bahagia memandangi wajahmu yang tertidur di kursi malas di teras rumah kontrakanmu. Kau itu candu bernama keindahan. Dan kepalaku semua sudutnya terisi hal-hal tentang kamu, Jui.
Magelang, 9 Januari 2009
Memoir un Jui
Langganan:
Postingan (Atom)