Jumat, 09 Januari 2009

Semuanya Kamu ~Jui~

Kamu adalah seniman paling gila, sinting, edan, atau apatah namanya. Kamu adalah orang paling imajinatif dan tak logis. Mungkin hanya kamu satu-satunya di dunia ini. Kau mewarnai ramtutmu dengan warna tembaga dan highlights coklat. Dan kau menindik telinga serta bibirmu. Aku kecanduan melihatmu bekerja. Aku tak tahan tidak berada di dekatmu.
Lukisanmu hidup dari warna tak masuk kategori apa pun. Puisimu seperti langit yang tingginya hanya Tuhan yang tahu. Lagu yang kau buat liriknya bicara. Dan musiknya menerjang semua genre yang ada, entah apa bisa dipetakan oleh musisi kondang sekali pun. Yang kusebut, Juiren. Artinya, Jui The Seiren. Walau kau terlalu sering wira-wiri main selonong seenak jidatmu sendiri di rumahku, dengan hanya mengenakan kaus buntuh warna-warni cat minyak dan celana Hawaii bunga-bunga norak. Tapi tetap saja nyanyianmu semerdu desir angin. Dan kau pernah berakting sampai diancam akan dijebloskan ke dalam RSJ kalau tak juga berhenti.
Sulit menjelaskan pribadimu. Karena rumit seperti operasi persamaan dalam metode matriks. karena tak terpahami seperti halnya lukisan abstrak yang tampak seperti corat-coret tak beraturan. Cara pikirmu adalah seni yang tak masuk akal. Tapi kau adalah seni yang gila itu sendiri. Kau riang dan cantik seperti Papilio blumei. Jiwamu riang dan hatimu bening. Aku bahkan kadang berilusi bahwa kau punya sayap.
Masih ingat awal pertemuan kita? Kau memuji habis-habisan lukisanku tentang mimpi buruk beberapa hari lalu yang bahkan dianggap orang lebih payah dari gambar pensil anak TK. Yang bahkan teori bla bla itu tak bisa kupahami.Kau menyebutnya 'gaib'. Kau bagaikan bom yang siap meledak jika pikiranmu tak tersalurkan waktu itu.
Kau cinta mati pada Bjork. Dan menggilai gaya tulisan khayal Ryunosuke Akutagawa. Kau sering memotret benda-benda yang menurut orang lain tak artistik sama sekali. Sumur tua jelek di belakang rumahku, misalnya. Dan alat musik favoritmu adalah harpa dan flute. Yang kau pelajari dengan membaca dan mendengarkan. Alasannya, kedua alat musik itu membuat pemainnya terlihat bahagia. Aneh memang, dan terkesan tidak murni. Tapi permainanmu bahkan lebih murni dari mata air sekalipun.
Kau punya gitar elektrik yang bisa ditekuk gagangnya. Dan penampilan luarmu tak pernah normal. Tapi kau seperti langit yang teduh, meracuniku dengan segala macam pikiran anehmu yang rupawan. Aku selalu ingin mendengarmu bernyanyi, berdansa denganmu, difoto dan dilukis olehmu, menonton deklamasi puisi, sampai minta diajari melukis. Tapi aku paling bahagia memandangi wajahmu yang tertidur di kursi malas di teras rumah kontrakanmu. Kau itu candu bernama keindahan. Dan kepalaku semua sudutnya terisi hal-hal tentang kamu, Jui.

Magelang, 9 Januari 2009
Memoir un Jui

Tidak ada komentar: