Senin, 18 Mei 2009

Ten Nights of Dreams by Natsume Soseki

Ten Nights of Dreams (夢十夜 Yume jūya) or Ten Nights' Dreams is a series of short stories by Natsume Soseki. It was serialized in the Asahi Shimbun from July 25 to August 5, 1908.

Sōseki composed ten strange dreams set in various time periods beginning with his contemporary time (the Meiji period) and including dreams set in the age of the gods, the Kamakura period, and 100 years in the future. The series begins with the phrase "I had a dream like this." (こんな夢を見た Konna yume o mita)

movie adapted

A Japanese film called Yume Jūya premiered in 2007. The film is a collection of 10 vignettes produced by the collaboration of 11 directors (two worked together) ranging from industry veterans to novices. The movie has been released by Cinema Epoch in October 2008.


The First Dream

Director:Akio Jissoji  Screenwriter:Kuze Teruhiko
Stars:Kyōko Koizumi, Matsuo Suzuki, and Minori Terada


The Second Dream

Director:Kon Ichikawa 
Screenwriter:Kokuji Yanagi
Stars:Tsuyoshi Ujiki and Nakamura Umenosuke


The Third Dream

Director: Takashi Shimizu
Stars: Keisuke Horibe and Yuu Kashii


The Fourth Dream

Director: Atsushi Shimizu
Screenwriter: Shin'ichi Inotsume
Stars: Koji Yamamoto and Toru Shinagawa


The Fifth Dream

Director & Screenwriter: Keisuke Toyoshima
Stars: Mikako Ichikawa and Koji Ōkura


The Sixth Dream

Director & Screenwriter: Matsuo Suzuki
Stars: Sadao Abe, TOZAWA and Yoshizumi Ishihara


The Seventh Dream

Directors: Yoshitaka Amano and Masaaki Kawahara
Stars: Sascha and Fumika Hideshima


The Eighth Dream

Director: Nobuhiro Yamashita
Screenwriter: Ken'ichiro Nagao
Stars: Hiroshi Fujioka and Hiroshi Yamamoto


The Ninth Dream

Director & Screenwriter: Miwa Nishikawa
Stars: Tamaki Ogawa and Pierre Taki


The Tenth Dream

Director: Yuudai Yamaguchi
Screenwriters: Yuudai Yamaguchi and Junya Katō
Character Design: MAN☆GATARO
Stars: Ken'ichi Matsuyama, Manami Honjō, Kōji Ishizaka, and Yasuda Dai Circus


Prologue and Epilogue
Director: Atsushi Shimizu
Stars: Erika Toda

Senin, 11 Mei 2009

tek... tek.... tek...

keyboard lama di atas meja
naskah yang belum selesai dalam monitor kaca
tangan yang dingin di dada
pikiranku semrawut
di dadaku ada lubang!

lubang...
masih basah dan membara
paru-paru di dalamnya terbakar
aku tak mau lagi bernapas

keengganan itu menyeruak
melebarkan lagi lubang
membuat lubang lagi
aku berlubang-lubang seperti keju Swiss
apakah itu tidak baik??

suara keyboard disentuh
ketukan-ketukan jari yang lambat
aku tak mau terus bernapas

Rabu, 06 Mei 2009

nameless doll

dia tergeletak di sana bagaikan tubuh kosong
menenggak mimpi-mimpinya dengan rakus
tanpa suara

dia menangis di sana memanggil-manggil
sebuah nama yang bukan dari dunia ini
desahannya halus

baru hari ini aku tahu
dia boneka yang dibuang tuannya
baru hari ini aku berani
menghampiri, menyentuh tangannya yang hambar

"siapa namamu?" kupikir setelah ini, aku bisa membawanya pulang
dia berbisik
tapi bisikannya nama dari dunia lain itu!

kuhentikan usahaku, sia-sia
dia boneka yang terprogram sempurna
bahkan nama pun tak punya
aku belum bisa mengalahkan pembuatnya

tapi akan kuingat dia
lingkaran api dan listrik dari tubuhnya
saat hujan turun di siang hari

magelang, 07 05 09

KAMI ~For You There~

(aku mendengar Gackt menyanyikan Emu~For My Dear~ dan menangis dengan kemeretuk gigi)



ketika semua mulai menarik garis
melukis jarak
aku telah bersiap, mengulangi
rasa sepiku, hidup sendiri
menghapus daftar nama

tapi kau datang, lengan terentang
menarik tubuhku untuk memeluk;
merasakan masih ada satu:
detak jantung di sini
dan aku senang dapat dalam-dalam menelusuri matamu
walau tak mengerti sesuatu pun

kau menamai dirimu sendiri 'DEWA'
jadi aku manusia?
bukan, aku hanya sekedar kesepian
tak pernah ada manusia sesunyi ini
kenyataan itu membentang seperti penghinaan
pada Tuhan

bolak-balik kucari pertolongan
pada Tuhan maupun dewa-dewa palsu
tanpa merubah sesuatu pun

tapi ketika kuulurkan tangan,
dan sesuatu itu
semua menghilang!

maka kucoba menutup mata
dan aku ditelan kebinasaan
tapi tetap saja,
kau menarikku keluar,
memperdengarkan jantungmu padaku
bahwa kau masih di sana

dalam ketiba-tibaan, kau berbisik keluar melalui detak itu
"mungkin akan berakhir, tanpa aku tahu..."
ramalan berdasar intuisi itu menakutkanku
dan aku memandang jauh ke dalam matamu
mengulik keterangan sia-sia
mengorek tanpa mendatangkan perubahan

aku melihatmu, aku memandang matamu
tubuhmu yang perlahan hilang
dalam peluk lenganku
Ah, aku tetap saja manusia sunyi

karena kamu bukan Tuhan
ataupun dewa-dewa palsu
kamu hanya sekedar jantung
dan langit luasku~

magelang, 22 04 09