Di depan jendela aku bersilang kaki
Di pangkuanku selembar kanvas kosong, sebuah palet
dan bertube-tube cat minyak murah baru
Dalam tanganku sebatang kuas
Aku menunggu apa pun yang melintasi jendela terbuka itu
Mataku tak penat memandang
Jemariku selalu siaga
Tapi aku belum melihat apa pun
dan belum ada apa pun yang kulukis
Kanvas itu masih putih
dan catnya masih utuh
Mata berkedip
Segeromcol burung dara dilepas untuk latihan terbang
Suara kepakan sayapnya yang kusam
meletup letupkan jantung, mengguncang hati
Aku tersihir!
Si kawanan pergi
Tersisa bulu berwarna putih-hitam di kusen
Kuambil dan kubelai sayang
seperti rasa sayang pada kekasih
Aku tersihir oleh keindahan!
Jemariku digerakkan benang tak terlihat
Aku tersihir oleh keanggunan bernama hitam-putih
Kutorehkan kesana-kemari copratan cat membentuk dimensi
Aku masih tersihir
Lukisanku adalah simfoni dua warna, hanya dua
Aku telah melanggar perintah
dimakan mentah-mentah oleh kepakan sayap dara
berwarna hanya dua
Magelang, 9 Januari 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar