Minggu, 22 Februari 2009

Pilek lagi!!

Kupikir seminggu aja bakal sembuh, tapi ternyata..............
hari Sabtu udah mendingan, hari minggu tambah parah abis aku, mama n Miki shopping ke pecinan........... I'm Desperate!!!!!!!!!! mana minggu ini bakal padet bgt lagi.....
1. Ujian praktek Biologi: buku klas 1-ku ilang, padahal yg diujiin ada di sana smua!
2. ---------II--- Musik: -sendrap... sendrup...... I have lost my voice again!
-kelompokku ga pernah beres dari yang paling ga beres sekalipun!!!
3. OMG!!! MATI AKU!!! (zetsubou billy mode on)

Minggu, 15 Februari 2009

Aduuuh, suarakuuuu...........!!!!!!

Sudah semingguan aku batuk pilek. En hasilnya??? Suaraku serak abizz kaya godzilla! Waaaa~~!!! Gimana niiiiiiiiiiiih....... hikz.... Swear, susah banget ngebalikinnya kalo kaya gini. Mau ngomong aja harus ber'ehem' dulu biar mau keluar (suaranya mksdnya). Mana tenggorokan kecekik dahak, en hidung kesumbat ingus lagi. Aduuh.
Ni semua bukan gara-gara jam ke-0. Atau kebanyakan tugas en ulangan. Kalo itu siy ga pernah kukerjain! (bangga) Bukan juga gara-gara begadang nulis mumpung lagi ketagihan. Ga mungkin, komputerku mati siy. Walo ga mati pun, brani nyalain komputer dengan mata panas gini sama aja cari masalah ama Papa. Apalagi ngenet ampe sore. Ga mungkin! Satu minggu kemaren layanan sore-nya Mas Catur tutup dengan sempurna. En aku lagi ngirit ga ngenet di warnet. Bukan karena aku yang ga dapet tempat terus. Bukan juga karena kecapean latihan tae kwon do. Aku lagi males malah. Ujian juga ga ikut ah. Hehehehe.
Satu-satunya alasan, ya band buat ujian praktek musiklah. Kacau banget. Aku mikir ampe kepala puyeng. Mau gimana nih. Kelompok ga jadi-jadi. Ga kompak-kompak. Kalo gagal yang ada nyalahin orang laen. Ga mau instrospeksi diri. Aku sih, milih diem. Ga ikut nyalah-nyalahin. Ngaduin ke Pak Budi juga sebenernya cuma gertakan kok. Tangisku waktu itu juga cuma sandiwara. What a great act, isn't it? Yeah, walo gitu, mereka ga sadar-sadar juga. Aku selalu ngerelain tae kwon do ato musik buat latian. Tapi mereka sama sekali ga mau ngerelain apa-apa. Kalo les pelajaran kan bisa pinjem catetan temen, bisa minta ajarin orang laen. Tapi kalo tae kwon do? Praktek lukisnya? Emangnya bisa dipinjemin ama temen? Bisa? Bisa? Ga kan.
Aku emang egois. Tapi aku udah capek mikirin kepentingan mereka terus yang sama sekali ga ada balas budinya. Aku udah capek ga pernah makan siang buat latian ama mereka. Nih tukak lambung bisa-bisa menjalar ke hati, terus ke ginjal terus ke............. Arrrrrrrrrrrrgggggggggggh!!!!!!!!!!! Bener-bener, dikasih hati minta jantung. Apa aku harus sampe di-opname di RS dulu baru mereka mau mikirin kepentinganku juga? Apa doll syndrome-ku harus kumat dulu baru mereka mau latian 'serius' ampe sore? Yang bener aja! Vincent udah duluan masuk RS (leukemia-nya kumat), Jimmy gara-gara DBD, aku gak mau ikut-ikutan. Diinfus itu sama sekali ga enak. Apalagi makanan rumah sakit yang, yaikh, hambar banget itu. Cukup sekali sebulan aja aku masuk RS, itu pun sekadar check up.
Aku harus gimana, coba? Marah udah, ngadu udah, ngambek belom sih. Tapi kalo aku ngambek, aku bakal jadi kaya lagunya Kanon Wakashima yang Still Doll itu donk:

"Hi, Miss Alice,
Still you do not answer..."

Jangan sampe dah. Doll syndrome aja udah cukup bikin sengsara. Masa' kerasanya senyum tapi ternyata no expressions? AAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!! Ano Yarou no Kimitachi!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! (What the Fuck They!!!!!!!)

Jumat, 13 Februari 2009

Bocah Angin, Bocah Gunung, Aku Menunggumu

Aku dipertemukan dengannya di waktu yang jauh dari sekarang. Sangat jauh. Sewaktu aku masih muda dan gemar berpergian kesana kemari. Sebelum benua-benua diberi nama. Sebelum manusia pertama dicipta dari citra-Nya sendiri. Jauh sebelum semua itu.
Waktu itu hanya ada aku, Langit, Bumi, Matahari, Air dan Waktu. Semua yang tak bernyawa, tapi berjiwa. Aku tinggal dengan menelusuri ceruk-ceruk bumi yang kosong. Dengan semangat muda dan energi penuh. Dan apa yang dinamai daratan masihlah kesepian.
Bumi terlalu serius untuk diajak bercanda. Langit terlalu angkuh tak bisa kuraih. Matahari sangat panas, tenang tapi membuatku gugup. Air sangat keras, suara deburannya sangat kasar. Dan Waktu, ia sangat dingin. Penuh kesuraman dan ketakutan. Lalu Ia Yang Paling Berkuasa datang dan berkata,
"Aku akan memberi kalian teman. Makhluk berjiwa dan bernyawa." Aku tak tahu apa itu sampai ia diturunkan. Awalnya ia datang sendiri. Ia senang melihatku yang diherankan dengan dirinya yang berwujud. Ia memperbolehkanku bermain-main di ranting-rantingnya, dan duduk-duduk di dahannya. Ia membiarkanku menyerbukkan bunga-bunganya. Dan mencuri sedikit bijihnya.
Ia berteman baik dengan Bumi yang memberinya 'makanan'. Dan Langit yang ia tatap. Juga Matahari yang membantunya tumbuh besar. Dan Air yang menjadi obat baginya. Bahkan ia membiarkan Waktu memerahkan lalu menggugurkan dedaunannya. Makin hari makhluk yang serupa dengannya makin bertambah banyak. Maka mereka diberi nama Pepohonan.
Suatu pagi aku menyapanya yang terbangun dari tidur,
"Bagaimana tidurmu? Baikkah?"
"Ya. Baik sekali." Aku bergelayut manja padanya, menghela dedaunannya dan menggoyangkan batangnya. Kakakku, Udara, ternyata tertidur pada celah-celahnya. "Apa kau merasa betah di sini?" tanyaku lembut. Mencoba mengusik diamnya. Ya, Pepohonan itu, walau hangat dan menyenangkan, mereka sangat irit bicara.
"Betapa pun merasa betah, kami para pendatang tetap merasa asing, bukan." Ada sedikit rona rindu dalam suaranya. Pada tempat sebelumnya ia tinggal, mungkin. Benar, bumi bukan surga.
"Klise sekali." kataku menanggapi nada bicaranya yang retoris.
"Tapi benar."
"Benar itu relatif." Ah, kini kami sama-sama bersikap skeptis.
"Aku, hanya merasa belum sepenuhnya menjadi bagian dari kalian, yang sudah terlebih dulu ada. Belum banyak guna. Padahal aku mengampu nama yang besar. Yang mencakup semua kerabat kami." katanya panjang. Aku mendengus. Menggerakkan air bergaram yang kala itu belum dipanggil 'Laut'.
"Tak penting," kataku lagi, "keberadaan suatu ciptaan bukan berdasar nama yang dia sandang, atau guna dirinya. Tapi esensi dan tujuan keberadaannya." kataku.
"Lihatlah kulit bumi tempatmu berdiri. Bukankah warnanya tidak lagi sepucat sebelum kau datang? Bukankah rasanya tidak lagi sepanas sebelum akar-akarmu berjejal di bawahnya?" Pohon bernama Aras itu terdiam. Aku masih terus mengoceh. Merasa karena lebih dulu ada maka aku bisa menceramahinya panjang kali lebar.
"Masih ingat udara seperti apa yang kau dapat sewaktu pertama kali datang? Masih ingat wajah lagit saat itu? Dan masih ingatkah kau, akan Waktu, yang pergi membawa umur Bumi, begitu jauh, begitu cepat?" Seakan sebentar lagi akan tamat. Kataku dalam hati.
Dia tak menjawab. Hanya saja wajahnya mengatakan bahwa ia memikirkan segala celotehanku itu. Dan matanya tak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa omelanku itu berputar-putar di kepalanya. Tak mau pergi.

*******

Dan sejak saat itu, ia menemani Waktu berjalan dengan sukacita tanpa ragu. Ia memberi Langit warna hijau yag segar. Ia memberi Udara tempat bersih. Kesejukan bagi Matahari, dan kesehatan bagi Bumi. Dan bagiku, ia memberi tempat bersantai dan pembicaraan-pembicaraan cerdas di siang hari. Karena malam adalah saat ia dan yang lain tidur. Sementara aku memang diciptakan untuk tak pernah tidur. Pembicaraan-pembicaraan mengenai Dunia dan Sang Maha Kasih. Pembicaraan yang kurindukan hingga kini.
Karena pada suatu hari, Sang Surgawi datang dan melahirkan makhluk bernyawa dan berjiwa bernama Manusia. Yang mana Hewan telah dicipta sebelum mereka. Dan aku menyadari bahwa sahabat-sahabat hijauku yang rindang itu satu persatu menghilang. Perlahan tapi pasti, tana kembali seperti mulanya, kering tandus. Langit kusam, Udara sesak, dan panas Matahari membakarku.
Karena si anak kemarin sore itu dengan angkuh menganggap Dunia miliknya sendiri. Dan merasa bahwa mereka bebas mau bagaimana memperlakukannya. Tak sadar bahwa mereka telah membunuh kehidupan pertama bagi tanah yang mereka pijak. Bagi dunia yang mereka hidupi. Bagi semesta di mana mereka hanya kosmos kecil di dalamnya.
Dan sekarang, setelah Waktu menggerogoti segala kelemahlembutanku, menggantinya degnan gerak yang kaku kasar, aku merindukannya kembali. Memutuskan untuk mencoba menunggu. Mungkin Ia yang bernama Tuhan akan mencipta segalanya lagi dari awal. Juga sahabatku itu. Aku di sini. Dan juga yang lain. Menunggu ia hidup lagi.
Semua itu terjadi di saat yang sangat lampau. Ratusan kali lampaunya dari umurmu. Maka aku berpesan,
Hei, bocah gunung, bocah angin,ribuan tahun lalu maupun sekarang, aku masih menunggumu.


Magelang, 10 & 11 Februari 2009

********