Di desa ini ada cerita seram tentang suara piano yang sering terdengar di malam hari dari dalam hutan. Nyatanya di dalam hutan itu memang ada sebuah piano yang tak diketahui asal usulnya. Kinpira menantang Shuuhei untuk memainkan piano itu. Tetapi saat ia menekan tuts-tutsnya, bahkan sama sekali tak ada suara yang keluar dari piano itu! Padahal, kalau urusan main piano, seharusnya ialah jagonya! Tetapi saat Kai mencoba memainkannya, malah keluar suara yang indah. Karena penasaran, Shuuhei mengajak Kai ke rumahnya. Di sana Kai disuruh memainkan piano yang ada. Tapi entah mengapa malah abominable, jelek banget. Apa sih yang terjadi?
Banyak yang bilang bahwa manga ini tidak menarik, karena gambar covernya sangat biasa. Tapi saya berani bilang bahwa mereka salah total. Pendapat saya, manga ini sangat cantik, baik dari segi cerit maupun gambar dan gambar cover yang sangat sederhana. Saya justru pertama kali tertarik dengan manga ini saat melihat covernya yang sederhana itu. Sepertinya hanya diwarna dengan cat air biasa. Lekuk-lekuk gambarnya pun tak serumit manga-manga yang beredar. Tapi ada suatu kehidupan dalam gambar itu. Emosi yang ada dalam gambar itu begitu indah. Hanya memandangi gambarnya saja saya bisa menangis karena terharu. Entah pada apa. Saya juga terpesona pada sub judulnya, The Perfect World of KAI. Menggambarkan suatu keluguan seorang bocah. Yang mungkin sudah tak kita punyai sekarang ini.
Selama ini saya sudah banyak membaca manga bertema musik. Salah satu yang masih saya cintai sampai sekarang -----salah satu alasannya karena masih belum tamat------- adalah Nodame Cantabile. Manga ini mungkin akan dibanding-bandingkan dengan Nodame. Tapi bagi saya, kedua manga ini sama sekali berbeda. Tak bisa disejajarkan. Jika Nodame menyuguhkan suatu komedi segar -----namun agak dewasa------ komik ini menyuguhkan sisi lain kehidupan di daerah kumuh penuh psk dan gigolo. Di sisi kemiskinan yang dalam. Penggencetan, ejekan tak manusiwawi. Semua sempurna dalam dunia Kai. Keluguan seorang bocah yang tak mau main piano lagi karena kekasaran guru les pianonya dulu.
Yang berbeda lagi, adalah rasa yang dikandung dari kedua manga ini. Jika membaca Nodame bisa membangkitkan untuk bermain piano. Seperti saya yang jadi keranjingan --lagi-- bermain piano setelah lama malas. Atau dengan kata lain, semangat. Tetapi Piano no Mori mengajak saya untuk mencintai bermain piano. Dan itulah yang banyak dicari pianis-pianis muda dewasa ini. Mereka pandai memainkan piano, sudah terbukti. Tetapi hanya berdasarkan buku dan aturan ini itu, tak ada romantisme dari suatu lagu yang harusnya sudah menjadi hal mutlak.
Saya berterima kasih sebesar-besarnya kepada Isshiki-sensei. Karena manga ini, saya bisa memainkan Fur Elise dan lagu-lagu Chopin sampai membuat kakak lelaki saya yang paling keras hati menangis tersedu-sedu. Dia bilang, saya sudah menemukannya. Romantisme, keindahan dan cinta yang ada pada sebuah piano. Benda mati berwarna hitam dengan lekuk tubuh tegas. Saya pun merasa menjadi orang yang lebih lembut. Mungkin kini saya pun sudah jadi orang yang romantis? Hehehe.......... ^_^